Alamat

Jl. Raya Panglegur KM.4 Pamekasan

Telp./WA

+62 324 322551

Email

tips@iainmadura.ac.id

Mahasiswa Universitas Islam Negeri Madura Prodi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial Kunjungi Musium Mandilaras Pamekasan

  • Diposting Oleh Genesis_web
  • Selasa, 6 Oktober 2026
  • Dilihat 61 Kali
Bagikan ke

39 Mahasiswa Tadris IPS UIN Madura Kunjungi Museum Mandilaras Pamekasan

PAMEKASAN — Sebanyak 39 mahasiswa Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (TIPS) Universitas Islam Negeri Madura melakukan kunjungan edukatif ke Museum Mandilaras Pamekasan, Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.45 WIB tersebut menjadi bagian dari pembelajaran mata kuliah Sejarah Peradaban Islam.

Kunjungan tersebut bertujuan memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada mahasiswa melalui berbagai peninggalan sejarah dan budaya yang tersimpan di Museum Mandilaras. Para mahasiswa mengamati sejumlah koleksi sekaligus mendapatkan penjelasan dari petugas museum mengenai sejarah dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Salah seorang mahasiswa TIPS, Reihan Ulumuddin, mengatakan kunjungan tersebut dilakukan atas arahan dosen mata kuliah Sejarah Peradaban Islam sebagai bagian dari proses pembelajaran.

“Tujuan pertama karena ada suruhan dosen untuk mengunjungi Museum Mandilaras untuk pembelajaran mata kuliah Sejarah Peradaban Islam,” ujar Reihan.

Menurutnya, pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dilakukan melalui materi di ruang kelas. Kunjungan langsung ke museum diperlukan agar mahasiswa dapat melihat bukti sejarah secara nyata.

“Sangat penting. Kalau cuma materi saja kayaknya tidak relevan. Maka dari itu perlu mengunjungi museum sebagai objek dari pembelajaran dan bukti bahwa masuknya Islam ke Pamekasan,” katanya.

Selama kunjungan, Reihan tertarik dengan sejumlah koleksi museum, salah satunya potongan kiswah Ka'bah. Ia juga memperoleh pengetahuan baru mengenai kebudayaan Madura, khususnya terkait pakaian adat.

“Yang saya tahu dulu bahwa baju adat Madura itu Sakera. Ternyata Sakera itu nama orang, sedangkan nama bajunya adalah Khalabih Pesa' Gombor,” tuturnya.

Menurut Reihan, koleksi museum juga dapat menjadi sumber pembelajaran mengenai kehidupan masyarakat pada masa lalu. Ia menilai keberadaan koin kuno, misalnya, dapat dikaitkan dengan aktivitas ekonomi dan perdagangan pada masa lampau.

Mahasiswa TIPS lainnya, Fatimatus Zahrah, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru selama berada di Museum Mandilaras. Menurutnya, setiap koleksi yang dipamerkan memiliki cerita dan sejarah yang menarik untuk dipelajari.

“Banyak menemukan hal-hal baru dan setiap koleksi ada sejarah yang berkesan,” ujar Fatimatus.

Ia menilai pembelajaran melalui museum memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan hanya mempelajari sejarah melalui buku. Menurutnya, mahasiswa dapat melihat secara langsung bentuk benda peninggalan sejarah sehingga pemahaman terhadap materi menjadi lebih konkret.

“Kalau saya melihat dari buku, saya hanya mengetahui bagaimana hal atau benda itu ada dan kita hanya melihat fotonya saja. Kalau melihatnya secara langsung, bukan hanya pengetahuannya yang didapat, tetapi membuat kita tahu bagaimana wujud nyata dari hal tersebut serta bukti bahwa hal tersebut benar-benar ada,” jelasnya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian Fatimatus adalah koleksi dokar dan kerapan sapi. Ia menilai keberadaan koleksi tersebut penting untuk menjaga agar kebudayaan Madura tetap dikenal oleh generasi muda.

Fatimatus juga menilai Museum Mandilaras cukup menarik bagi generasi muda karena memiliki koleksi yang beragam, menarik, dan terawat. Menurutnya, mahasiswa dapat ikut memperkenalkan museum melalui berbagai kegiatan akademik, edukasi, maupun publikasi kreatif.

Sementara itu, Moh. Maulidi, petugas Museum Mandilaras, menjelaskan bahwa museum memiliki fungsi penting dalam mengenalkan peninggalan benda cagar budaya yang ada di Madura kepada masyarakat.

“Tujuannya untuk menginformasikan peninggalan benda cagar budaya di Madura. Fungsinya sebagai tempat menyimpan, merawat, dan juga mempublikasikan benda sejarah kepada masyarakat,” jelas Maulidi.

Ia mengatakan pengunjung Museum Mandilaras berasal dari berbagai kalangan, termasuk siswa dan mahasiswa. Museum tersebut buka pada Selasa hingga Minggu, sedangkan Senin menjadi hari libur museum.

Salah satu koleksi yang banyak diminati pengunjung adalah kitab layang kuno, yang disebut sebagai salah satu koleksi tertua di museum. Koleksi tersebut menjadi bagian penting dalam memperkenalkan peninggalan sejarah kepada masyarakat.

Menurut Maulidi, kunjungan mahasiswa penting dilakukan agar generasi muda dapat memahami sejarah dan peninggalan masa lalu. Dalam setiap kunjungan, petugas museum memberikan penjelasan secara detail mengenai koleksi yang dipamerkan.

“Responnya sangat antusias sekali agar dapat mengenal budaya,” kata Maulidi saat menjelaskan respons mahasiswa terhadap kunjungan tersebut.

Untuk meningkatkan minat generasi muda terhadap museum, pihak Museum Mandilaras juga berupaya mengadakan berbagai kegiatan serta mengundang mahasiswa untuk melakukan kunjungan.

Kunjungan 39 mahasiswa TIPS UIN Madura ke Museum Mandilaras menunjukkan bahwa museum dapat menjadi ruang pembelajaran di luar kelas. Melalui pengamatan langsung terhadap benda-benda bersejarah, mahasiswa tidak hanya memperoleh informasi, tetapi juga dapat melihat bukti konkret mengenai perjalanan sejarah dan kebudayaan masyarakat.

Bagi mahasiswa TIPS, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat pemahaman mengenai Sejarah Peradaban Islam, budaya Madura, serta perkembangan kehidupan masyarakat pada masa lalu. Kegiatan kunjungan ke museum juga menjadi salah satu cara untuk mendekatkan generasi muda dengan warisan sejarah dan budaya yang ada di daerahnya.